(Studi Kasus di SMA Negeri 1 Sumberpucung). Oleh Moh Aminudin Zuhri Guru Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 1 Sumberpucung / Mahasiswa Pendidikan Agama Islam. Email: aminudinzuhri@sman1sumberpucung.sch.id
ABSTRAK
Perkembangan media sosial TikTok dan Instagram Reels telah mengubah wajah dakwah. Generasi Z yang menjadi mayoritas siswa SMA menghabiskan 3-4 jam per hari di platform video singkat. Di sisi lain, tantangan radikalisme dan intoleransi masih menjadi persoalan penting dalam pendidikan agama. Artikel ini mengkaji strategi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Sumberpucung dalam memanfaatkan konten Reels edukatif sebagai media dakwah kreatif untuk menanamkan nilai Islam moderat (wasathiyah). Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi selama tiga bulan, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman serta diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, guru PAI mengembangkan tiga format Reels, yaitu ā60 Detik Tafsir Kontekstualā, āSkenario Anti-Bullying Qurāaniā, dan āDuet Fatwaā. Kedua, strategi dakwah kreatif ini meningkatkan keterlibatan siswa hingga 70% dan memperkuat pemahaman nilai Islam moderat yang tampak dari perubahan sikap toleransi siswa. Ketiga, faktor pendukung utama adalah literasi digital guru dan dukungan kepala sekolah, sedangkan faktor penghambat meliputi komentar negatif warganet dan keterbatasan waktu guru. Temuan ini dapat menjadi rujukan bagi sekolah lain dalam mendigitalisasi pembelajaran PAI.
Kata Kunci: dakwah kreatif, guru PAI, Reels edukatif, Islam moderat, Generasi Z.
A. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Generasi Z lahir dan tumbuh di era post-truth. Mereka cenderung lebih mempercayai video berdurasi 30 detik daripada khotbah berdurasi 30 menit. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan bahwa 89,7% remaja usia 16-18 tahun mengakses Instagram dan TikTok setiap hari (APJII, 2024). Ironisnya, ruang digital yang sama juga menjadi ladang penyebaran paham eksklusif, ujaran kebencian, dan hoaks bernuansa agama.
Kondisi ini menempatkan peran guru PAI pada titik krusial. Apabila metode ceramah dan papan tulis tetap dipertahankan tanpa adaptasi, dakwah berisiko kehilangan audiensnya. Islam wasathiyah – jalan tengah, toleran, dan rahmatan lil alamin – perlu hadir langsung di linimasa (For Your Page) siswa agar tetap relevan dengan pola konsumsi informasi mereka.
SMA Negeri 1 Sumberpucung menjadi salah satu sekolah yang secara aktif bereksperimen dengan pendekatan ini. Sejak tahun 2023, tiga guru PAI di sekolah tersebut mengelola akun Instagram @pai.sman1sumberpucung yang telah memiliki 8.500 pengikut dan konsisten mengunggah konten dakwah tiga kali dalam seminggu. Salah satu videonya, āHukum Pacaran vs Taāaruf dalam 60 Detikā, bahkan telah ditonton lebih dari 8.000 kali. Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih mendalam, khususnya mengenai strategi kreatif yang digunakan serta dampaknya terhadap penanaman nilai Islam moderat pada siswa.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
- Bagaimana strategi dakwah kreatif guru PAI SMA melalui konten Reels edukatif?
- Bagaimana dampak konten Reels terhadap penanaman nilai Islam moderat pada siswa?
- Apa saja faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan strategi tersebut?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan merumuskan model dakwah kreatif guru PAI berbasis konten Reels sebagai rujukan bagi sekolah lain dalam mendigitalisasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
B. KAJIAN TEORI
Dakwah Kreatif dan Literasi Digital Guru
Dakwah kreatif merupakan upaya menyampaikan ajaran Islam melalui metode baru, bahasa baru, dan media baru tanpa mengurangi substansi pesan. Di era digital, literasi digital guru PAI bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan. Guru dituntut mampu berperan ganda, baik sebagai pencipta konten (content creator) maupun penyeleksi konten (content curator) yang mampu menyaring informasi keagamaan yang beredar di media sosial (Azra, 2018).
Karakteristik Islam Moderat (Wasathiyah)
Kementerian Agama Republik Indonesia merumuskan empat pilar moderasi beragama (wasathiyah), yaitu tawassuth (mengambil jalan tengah), tawazun (bersikap seimbang), iātidal (bersikap lurus dan tegas), dan tasamuh (bersikap toleran terhadap perbedaan) (Kemenag RI, 2019). Keempat pilar ini menjadi landasan konseptual dalam menilai muatan nilai keislaman yang disampaikan melalui konten Reels.
Reels sebagai Media Dakwah
Reels memiliki tiga keunggulan sebagai media dakwah, yaitu dukungan algoritma platform yang memperluas jangkauan, sajian audio-visual yang lebih mudah dicerna, serta ruang interaksi langsung dengan audiens melalui kolom komentar. Durasi maksimal 60 detik mendorong guru untuk merumuskan pesan secara padat dengan prinsip satu pesan untuk satu video (one message one video), sehingga substansi dakwah tetap tersampaikan secara fokus dan mudah diingat.
C. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus (case study), yang bertujuan untuk memahami secara mendalam suatu fenomena dalam konteks kehidupan nyata (Yin, 2014). Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Sumberpucung dengan subjek penelitian terdiri atas tiga guru PAI, satu kepala sekolah, dan 20 siswa kelas XI yang dipilih secara purposif berdasarkan keterlibatan aktif mereka dalam produksi maupun konsumsi konten Reels dakwah.
Data dikumpulkan melalui tiga teknik, yaitu wawancara mendalam terhadap guru PAI dan kepala sekolah, observasi partisipatif terhadap proses produksi konten, serta dokumentasi terhadap 30 konten Reels yang telah diunggah selama periode penelitian. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, yaitu membandingkan informasi dari guru, kepala sekolah, dan siswa untuk memastikan konsistensi temuan.
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Strategi Dakwah Kreatif Guru PAI melalui Reels
Guru PAI SMA Negeri 1 Sumberpucung mengembangkan tiga format konten Reels edukatif sebagai berikut.
- 60 Detik Tafsir Kontekstual. Format ini menyajikan tafsir ayat Al-Qurāan yang dikaitkan dengan isu kekinian dalam durasi singkat. Contohnya adalah video āQS. Al-Kafirun: Toleransi Tanpa Kompromi Akidahā yang dibuka dengan hook provokatif āStop bilang semua agama sama!ā untuk menarik perhatian penonton sekaligus meluruskan kesalahpahaman tentang konsep toleransi dalam Islam.
- Skenario Anti-Bullying Qurāani. Format ini menampilkan role play dua siswa yang memerankan situasi perundungan, kemudian dikaitkan dengan dalil QS. Al-Hujurat ayat 11 tentang larangan merendahkan dan mengolok-olok orang lain.
- Duet Fatwa. Format ini merespons komentar warganet mengenai isu-isu kontemporer dengan menyertakan dalil dan solusi praktis, sehingga dakwah tidak hanya bersifat satu arah, tetapi juga dialogis dan responsif terhadap kebutuhan audiens.
Dampak terhadap Penanaman Nilai Islam Moderat
Kognitif: 17 dari 20 siswa yang diwawancarai mampu menjelaskan empat pilar wasathiyah dengan tepat, menunjukkan pemahaman konseptual yang cukup kuat setelah mengikuti konten Reels secara rutin.
Afektif: Guru dan siswa melaporkan adanya penurunan ujaran kasar pada grup percakapan WhatsApp kelas, yang mengindikasikan perubahan sikap ke arah yang lebih toleran dan santun.
Psikomotorik: 12 siswa berinisiatif membuat konten Reels sebagai tugas PAI bertema āDakwah 60 Detikā, menunjukkan bahwa nilai yang ditanamkan telah diinternalisasi hingga tahap praktik nyata.
Faktor Pendukung dan Penghambat
Faktor pendukung meliputi dukungan penuh kepala sekolah, keterlibatan aktif komunitas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), serta partisipasi siswa sebagai tim editor konten.
Faktor penghambat meliputi munculnya komentar bernada ujaran kebencian (hate speech), bertambahnya beban kerja guru di luar jam mengajar, serta stigma sosial berupa anggapan āguru menari-nariā dari sebagian masyarakat. Untuk mengatasi hal ini, guru menerapkan dua solusi utama, yaitu penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) dalam merespons komentar negatif dan penerapan strategi batching, yakni memproduksi beberapa konten sekaligus dalam satu waktu produksi untuk efisiensi waktu.
E. PENUTUP
Kesimpulan
Guru PAI SMA dapat melaksanakan dakwah kreatif melalui konten Reels edukatif secara efektif karena sesuai dengan gaya belajar dan preferensi konsumsi informasi Generasi Z. Efektivitas strategi ini ditentukan oleh tiga kunci utama, yaitu konsistensi produksi konten, kekuatan substansi keislaman yang disampaikan, dan dukungan kelembagaan dari sekolah.
Saran
- Sekolah dapat memulai program ini dengan menunjuk satu guru sebagai āDuta Digital PAIā untuk merintis dan mengoordinasikan produksi konten.
- Guru dapat memanfaatkan template aplikasi pengeditan video seperti CapCut untuk mempercepat proses produksi konten.
- Sekolah perlu melibatkan siswa sebagai produser konten guna meningkatkan rasa memiliki dan partisipasi aktif siswa.
- Sekolah perlu menyusun SOP konten yang jelas untuk menjaga konsistensi dan mengelola risiko komentar negatif.
Pada akhirnya, nilai-nilai Islam moderat harus hadir di tempat Generasi Z menghabiskan sebagian besar waktunya, yaitu di linimasa For Your Page mereka.
DAFTAR PUSTAKA
APJII. (2024). Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024. Jakarta: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia.
Azra, A. (2018). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III. Jakarta: Kencana.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Moderasi Beragama. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
Yin, R. K. (2014). Case Study Research: Design and Methods (5th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.