Pada tanggal 13 Mei 2026, Aula Graha Smaloka menjadi saksi bisu kemegahan dan runtutan kreativitas tanpa batas dalam gelaran bertajuk ARTileri Budaya (Art in Learning of Rich Culture). Acara yang berlangsung meriah ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan XI, yang dengan antusias menyulap ruang aula menjadi panggung apresiasi seni yang begitu hidup. Kegiatan ini bukan sekadar ajang unjuk bakat, melainkan sebuah ruang pembelajaran kontekstual di mana para siswa dapat mendalami, menghayati, dan melestarikan kekayaan warisan leluhur melalui media seni pertunjukan modern. Kehadiran seluruh warga sekolah di Aula Graha Smaloka menciptakan atmosfer yang hangat, penuh sorak sorai apresiasi, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa generasi muda saat ini masih memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap akar budaya bangsa mereka sendiri.
Sejak pagi hari, riuh rendah persiapan di balik panggung telah menggambarkan betapa seriusnya setiap kelas dalam mempersiapkan pameran kreativitas tampilan budaya mereka. Ketika lampu aula mulai meredup, penonton langsung disuguhi oleh rentetan penampilan yang memukau, mulai dari parade pakaian adat modifikasi yang elegan hingga aransemen musik tradisional yang dikemas secara kontemporer. Sorotan utama yang paling menyita perhatian dan emosi penonton adalah sajian drama kolosal yang dibawakan dengan penuh penghayatan. Setiap kelas berhasil membawakan cerita-cerita legenda nusantara dan sejarah perjuangan dengan visualisasi yang megah, tata panggung yang ciamik, serta dialog yang kuat, sehingga pesan-pesan moral mengenai tanggung jawab, persatuan, dan nilai-nilai kehidupan dapat tersampaikan dengan sangat apik kepada seluruh audiens yang hadir.
Tidak kalah memukau dari drama kolosal, panggung ARTileri Budaya 2026 kian memuncak saat ruang Aula Graha Smaloka dipenuhi oleh keindahan gerak dalam pertunjukan sendratari (seni drama dan tari). Perpaduan antara keluwesan gerak tari tradisional, alur cerita yang dramatis, dan dentuman musik pengiring berhasil menciptakan harmoni pertunjukan yang luar biasa magis. Melalui sendratari ini, para siswa kelas X dan XI tidak hanya memamerkan keterampilan fisik dalam menari, tetapi juga kemampuan mereka dalam berkolaborasi secara tim, memahami manajemen panggung, serta mengekspresikan emosi sebuah cerita tanpa banyak kata. Gelaran ARTileri Budaya ini pada akhirnya sukses menjadi refleksi indah dari sebuah proses belajar yang kaya akan nilai sosial, di mana seni berhasil menjadi jembatan yang mempersatukan perbedaan dan memperkokoh karakter profil pelajar pancasila di lingkungan sekolah.


