Pada zaman dahulu, ketika hutan masih lebat dan sawah belum seluas sekarang, orang-orang sudah memahami satu rahasia penting kehidupan: tak ada makhluk yang bisa hidup tanpa air.
Burung membutuhkan air untuk terbang jauh. Kerbau membutuhkan air untuk membajak sawah. Dan manusia, sejak dulu hingga kini, selalu mencari tempat tinggal yang dekat dengan sumber air jernih.
Konon, di sebuah tempat di barat tanah Malang, ada sebuah sumber air yang bening dan tak pernah kering meski kemarau panjang datang. Airnya sejuk, mengalir pelan, dan mudah dijangkau siapa saja.
Yang membuat tempat itu istimewa, tepat di atas sumber air tersebut tumbuh sebatang pohon pucung yang besar dan rindang. Batangnya kokoh, akarnya mencengkeram tanah kuat-kuat, seakan menjaga mata air di bawahnya. Daunnya menaungi siapa pun yang datang menimba air.
Orang-orang yang singgah di sana selalu berkata,
āAmbil air di bawah pohon pucung itu.ā
Lama-kelamaan, sesuai kebiasaan orang Jawa yang gemar menamai tempat dari ciri yang paling menonjol, sumber air itu pun disebut āSumber Pucung.ā
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Karena tempat itu nyaman, tanahnya subur, dan airnya melimpah, banyak keluarga mendirikan rumah di sekitarnya. Anak-anak bermain di tepian sumber. Ibu-ibu mencuci sambil bercakap-cakap. Para petani memulai hari dengan menimba air sebelum pergi ke sawah.
Perlahan, kawasan di sekitar sumber itu berubah menjadi pemukiman. Rumah-rumah bertambah. Jalan-jalan tanah mulai terbentuk. Orang-orang tidak lagi hanya berkata āke sumber pucungā, melainkan mulai menyebut wilayah itu sebagai Sumberpucung.
Waktu terus berjalan.
Pada tahun 1897, ketika Pemerintah Kolonial Belanda membentuk pemerintahan dengan pembagian wilayah menjadi provinsi, kabupaten, dan desa, kawasan yang ramai di sekitar sumber itu resmi ditetapkan sebagai Desa Sumberpucung di wilayah Kabupaten Malang.
Desa itu pun tumbuh luas dan mencakup berbagai kawasan: Krajan, Rekesan, Pakel, Suko, Sumberayu, Bandung, Lumbu Peteng, dan Karangkates. Namun seiring waktu dan penataan wilayah, kawasan itu kemudian dibagi menjadi lima dusun utama: Krajan, Pakel, Suko, Bandung, dan Karangkates.
Sejak berdirinya desa itu, banyak pemimpin yang silih berganti menjaga dan membangun Sumberpucung. Nama-nama seperti Mbah Irosari, Pak Daridjah, P. Imah, Singo Dimedjo, Sumowiryo, Djoyo Prawiro Kabul, Pak Toempoek, Saridjan, Radjio, Rebin Mulyo Ardjo, Supriadi Noto Prawiro, Hariyono, Tamat, Hartini, Tiāah sebagai penjabat, hingga Muhadi, menjadi bagian dari perjalanan panjang desa ini.
Karena wilayahnya luas dan penduduknya semakin banyak, pada tahun 1992 dilakukan pemekaran. Dusun Karangkates dan Bandung kemudian berdiri sendiri menjadi Desa Karangkates, agar pembangunan dan pelayanan masyarakat dapat berjalan lebih cepat.
Namun meski wilayahnya berubah, nama Sumberpucung tetap menyimpan kisah yang sama: kisah tentang air yang memberi kehidupan dan pohon pucung yang menjadi penanda awal sebuah kampung.
Dan hingga hari ini, ketika orang menyebut Sumberpucung, sesungguhnya mereka sedang menyebut sebuah cerita lamaātentang mata air, tentang pohon rindang, dan tentang manusia yang memilih menetap di tempat yang memberi kehidupan.