Di masa ketika hutan masih menjadi dinding alami bumi dan kabut turun perlahan di lembah barat Kabupaten Malang, berdirilah sebuah perkampungan kecil di tepi aliran Sungai Brantas. Kampung itu hidup dari satu mata air yang tak pernah keringājernih, dingin, dan dalam.
Di samping mata air itu berdiri pohon pucung raksasa, batangnya sebesar pelukan tiga orang dewasa. Akar-akarnya menembus tanah seperti naga yang tidur. Daunnya lebar meneduhkan bumi. Buahnya keras dan misterius. Orang-orang menyebutnya kepayangāPangium eduleāpohon yang menyimpan racun di balik kulitnya.
Suatu tahun, kemarau datang lebih panjang dari ingatan siapa pun. Angin timur bertiup panas. Sawah berubah retak seperti pecahan tembikar. Sungai menyusut. Hanya mata air di samping pohon pucung yang tetap mengalir.
Tetapi persediaan makanan habis.
Seorang pemuda pemberani bernama Wira berdiri di hadapan warga.
āJika mata air ini tak kering, pohon itu pasti menyimpan jawaban!ā serunya.
Tanpa sabar, ia memecah buah pucung dan mengolahnya seadanya. Malam itu tubuhnya gemetar hebat. Nafasnya tersengal. Langit tiba-tiba menggelegar. Petir menyambar pohon pucungācahayanya membelah gelap seperti pedang api.
Warga menganggap itu pertanda murka.
āPohon itu membawa celaka!ā teriak beberapa orang.
āPetir adalah tanda! Kita tebang sebelum semuanya binasa!ā
Massa bergerak membawa kapak dan parang. Ketika mata kapak pertama terangkat, bumi berguncang halus. Mata air yang biasanya tenang tiba-tiba berputar kecil seperti pusaran.
Di tengah kekacauan itu, muncul Ki Jayeng, sesepuh kampung. Rambutnya memutih seperti embun pagi. Ia berdiri di antara pohon dan warga.
āBerhenti!ā suaranya menggema lebih keras dari petir.
āKalian melihat racun, tetapi tidak melihat pelajaran.ā
Malam itu, hujan turun tiba-tiba. Bukan hujan biasaāderas, panjang, seakan langit membuka seluruh pintunya. Warga berteduh di bawah pohon pucung yang hendak mereka tebang. Aneh, tak satu pun ranting patah menimpa mereka.
Dalam suara hujan, Ki Jayeng berkata pelan:
āPetir tidak menyambar untuk memusnahkan.
Ia menyambar untuk membangunkan.ā
Keesokan hari, ia memimpin warga melakukan sesuatu yang belum pernah dicoba dengan sungguh-sungguh: merebus buah pucung berjam-jam, membuang airnya, lalu menanam bijinya dalam tanah lembap dekat sumber air. Hari demi hari mereka menunggu. Tidak ada keajaiban instan. Hanya kesabaran.
Tiga puluh hari.
Empat puluh hari.
Saat biji itu dibelah, warnanya hitam seperti malam setelah hujan. Aromanya dalam dan hangat. Mereka memasaknya bersama, dalam satu kuali besar. Semua duduk melingkar. Tidak ada yang makan sebelum Ki Jayeng mengangkat doa.
Mereka menunggu.
Tak ada yang roboh.
Tak ada yang keracunan.
Sebaliknya, tubuh terasa hangat. Tenaga kembali. Semangat bangkit.
Wira, yang pernah hampir mati karena tergesa-gesa, berdiri dengan mata berkaca-kaca.
āPetir itu bukan murka,ā katanya pelan. āIa mengajari kita agar tidak melawan alam, melainkan memahaminya.ā
Sejak saat itu, pohon pucung tidak lagi ditakuti. Ia dihormati. Mata air dijaga bersama. Anak-anak diajari bahwa racun bukan untuk dimusuhi, melainkan untuk dipelajari dengan ilmu dan kesabaran.
Kampung itu pun dinamai Sumberpucungāsumber kehidupan yang dijaga pohon kebijaksanaan.
Dan orang-orang tua berkata hingga kini:
Jika air tetap jernih,
Jika manusia tidak serakah,
Maka pucung akan selalu menjadi berkah,
bukan bencana.
Disclaimer : Kisah di atas adalah rekaan, kemungkinan tidak pernah ada legenda seperti di atas pada dunia nyata.